Home
Penyegaran Rohani
4 macam dosa dari daging manusia
Penyegaran Rohani
4 macam dosa dari daging manusia
4 macam dosa dari daging manusia
Pengantar
oleh : Ev.Bambang Wiyono
www.fullgospelindonesia.net
Banyak orang harus berperang dahulu dengan empat macam dosa dari daging manusia yang harus dikalahkannya sebelum seseorang beriman itu bisa bekerjasama dengan Allah. Tanpa memusnahkan jenis dosa ini, maka Tuhan tidaklah mungkin menemukan salurannya melalui diri mereka, sebab saluran itu tersumbat sama sekali.
" 4 macam dosa dari daging munusia " yang ditemukan DR.David Yonggi Cho dalam pelayanan beliau selama bekerja di ladang Tuhan merupakan dosa yang bisa menyebabkan kita sakit berkepanjangan, mengalami, stress, depresi dan lain lain, juga bisa menghambat kita dalam berdoa. Pengalaman beliau ini ditulis dalam buku " DEMENSI KEEMPAT" terjemahan / penerbitan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Immauel Jakarta.
Berikut kami salin khusus untuk members Home Cell Full Gospel Indonbesia.
1. Dosa Kebencian
Banyak manusia menderita oleh karena menaruh kebencian di dalam hatinya. Inilah bentuk dosa yang pertama yang akan kita perbincangkan. Selama Anda mengidap kebencian di dalam hati Anda, maka Tuhan tidak akan mungkin bekerja melalui diri Anda. Bahkan rasa benci itu, rasa dendam yang tidak mau memberi maaf, akan merupakan musuh nomor satu bagi kehidupan iman Anda.
Di dalam Matius 6 : 14-15, Kristus menekankan benar-benar soal ini. “Bila kamu mengampuni kesalahan orang lain itu, maka Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu. Akan tetapi bila kamu tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kamu, makan Tuhan pun tidak akan mengampuni segala kesalahan kamu itu”.
Biasanya oleh karena terlampau letih, maka saya tidak pernah mau menerima tamu sesudah empat kali berkhotbah di gerega pada hari Minggu yang sama. Dan bila ada seseorang yang ingin bertemu dengan saya, maka ia harus melalui sekretaris saya terlebih dahulu. Dialah yang akan meneliti baik-baik keperluan orang-orang yang bertamu itu. Kalau sampai ada seseorang bisa mencapai pintu kantor saya, maka itu berarti orang itu berada dalam kebutuhan yang mendesak sekali.
Pada suatu hari setelah selesai kebaktian di gereja datanglah seseorang laki-laki mengetok di pintu kantor saya. Saya membuka pintu dan mengizinkan orang itu masuk. Saya kira dia sedang mabuk, sebab saya perhatikan jalannya agak terhuyung-huyung. Ia duduk di kursi lalu mencabut sesuatu dari dalam kantong celananya. Ternyata yang dibawanya itu adalah sebilah pisau. Saya menjadi takut sekali. Saya pikir, “Kok gadis-gadis sekretaris saya sampai tega benar mengizinkan orang ini membawa pisau yang berbahaya sekali!” Saya betul-betul ketakutan sekali. Ketika ia menyodorkan pisau itu kepadaku, saya mengelak. Saya pikir ia hendak menusuk saya. Saya lalu saya berkata.
“Jangan gunakan pisau itu terhadap saya. Coba ceritakan, mengapa sampai kau datang kesini?”
Ia menjawab, “Saya bermaksud hendak membunuh diri.
akan tetapi saya mula-mula sekali hendak membunuh isteri saya. Kemudian ayah mertua saya, ibu mertua saya, dan setiap orang yang berada di sekitar saya.
Akan tetapi seorang rekan saya menganjurkan agar supaya saya datang menghadiri kebaktian di gereja anda, sebelum saya melakukan segala tindakan itu. Lalu saya datang dan menghadiri kebaktian anda yang ke empat pada hari ini. Saya pasang telinga luar biasa, akan tetapi tidak ada sepatah kata pun yang masuk ke dalam hatiku. Sebab Anda berbicara dalam bahasa Korea dengan logat bahasa Korea Selatan. Saya tidak dapat memahami tekanan kata-kata Anda itu, karena bahasa kita berlainan sedikit. Dan saya tidak bisa mengerti apa yang Anda maksudkan itu. Oleh sebab itu setelah saya mendengarkan seluruh khotbah Anda itu, maka kini saya akan melaksanakan maksud saya itu.
“Saya adalah seorang penderita tuberkolosis. Tak lama lagi saya akan mati juga. Saya terus-terusan batuk tidak berkesudahan. Makin lama saya makin mendekati ajalku.”
“Tenanglah,” kataku kepadanya. “Duduklah dekat-dekat saya. Nanti saya dengarkan dulu riwayatmu itu bagaiman letak persoalan yang sebenarnya.”
“Begini,” jawabnya. “Pada masa berlangsungnya Perang Vietnam, saya pergi meninggalkan kampung halamanku sebagai seorang ahli mesin dan supir buldozer. Saya bekerja selama ini di medan perang terdepan. Saya merobohkan batang-batang kayu dan membuka jalan raya.
Saya mempertaruhkan jiwaku untuk memperoleh uang sebanyak mungkin. Saya kirim semua uang penghasilanku kepada isteri saya. Tatkala perang Vietnam selesai saya hampir-hampir tidak punya uang sesen pun untuk pulang dari Vietnam.
“Saya mengirim telegram kepad isteri saya dari Hongkong. Tatkala saya tiba di lapangan terbang Seoul saya berharap ia akan menjemput saya bersama anak-anak saya. Akan tetapi tatkala saya tiba di sini, secuil bayangan mereka pun tidak saya ketemukan. Saya pikir mereka tidak menerima telegram saya itu. Akan tetapi tatkala saya sampai di runah saya, yang saya temukan adalah orang-orang lain yang di situ.
“Saya dengar keterangan bahwa Isteri saya telah melarikan diri dengan seorang anak laki-laki muda usia. Ia telah meninggalkan saya sambil membawa lari semua tabungan uang saya. Dia minggat bersama dengan laki-laki lain. Sekarang ia hidup di kota lain. Saya datangi dia dan meminta agar dia kembali lagi kepada saya. Akan tetapi dia telah bertekad bulat untuk tidak lagi kembali kepadaku.
“Saya pergi kepada ayah mertuaku dan ketemu sekaligus denga ibu mertuaku itu. Saya mengajukan protes. Mereka memberikan kepadaku uang sangu 40 dollar kemudian mengusir saya keluar dari dalam rumah mereka. Selama satu minggu kebencian menyala-nyala di dalam dada saya. Saya mulai batuk darah. Sekarang penyakit tuberkulosis itu makin merongrong tubuh dan nyawa saya. Tidak ada lagi harapan bagi saya. Saya akan pergi membinasakan mereka semua, yang telah membikin sakit hati saya. Baru sesudah itu saya akan membunuh diri saya.”
“Dengarkanlah,” saya menegur orang itu, “Bukanlah demikian caranya Anda membalas dendam Anda itu kepada mereka. Cara yang paling baik ialah berusaha agar tubuh Anda itu sembuh kembali. Anda mencari pekerjaan baru lagi, membentuk sebuah rumah tangga yang lebih berbahagia, dan barulah Anda pertunjukkan kebahagiaan Anda itu kepada mereka. Dengan cara demikian Anda betul-betul bisa membalas dendam Anda itu kepada mereka. Akan tetapi bila Anda membunuh mereka itu semua dan membunuh diri Anda sendiri, tidak ada hasilnya yang bisa Anda petik. Anda pun tidak merasakan kepuasan sama sekali.”
“Ya, akan tetapi saya sangat membenci mereka.”
“Selama Anda membenci mereka itu, maka selama itu pula Anda menyusahkan diri Anda sendiri,” kataku kepadanya.
“Apabila Anda mengidap kebencian di dalam diri Anda, maka itu berarti Anda membinasakan diri Anda lebih daripada Anda melakukan terhadap orang lain.”
“Tetapi saya tidak dapat menghilangkan rasa benci itu.”
“Mengapa kau tidak coba dulu dengan mengundang Yesus,”
kataku. “Bila Yesus masuk ke dalam hatimu maka segala kekuatan dan tenaga Tuhan akan masuk ke dalam hatimu.
Tenaga Tuhan akan mengalir kedalam dirimu. Tuhan akan menyentuh hatimu. Tuhan akan menyembuhkan dirimu, dan Tuhan akan memulihkan kembali kehidupan Anda yang telah ambruk itu. Dan bila semuanya ini telah menjadi satu kenyataan dalam hidupmu itu, maka hal itu akan merupakan satu pembalasan dendam yang paling menyakitkan hati bagi mereka itu.”
Saya mengajak dia berdoa dan menerima Yesus Kristus sebagai juru selamat pribadinya. Namun masih saja ia tidak bisa memaafkan isterinya itu. Maka saya pun meminta agar bisa memaafkan isterinya itu.
“Cara yang paling baik untuk memaafkan isterimu itu ialah mengucapkan berkat atas kehidupannya. Berkatilah tubuh, jiwa, raga dan kehidupannya. Berdoalah kepada Tuhan agar supaya Tuhan membuka pintu rahmatNya dan mencurahkan berkatNya kepada isteri Anda itu!”
“Tak mungkin saya mengucapkan berkat kepadanya itu!”, tolak orang itu mentah-mentah. “Saya tidak akan menyumpah-nyumpahi dia, akan tetapi saya pun tidak mau mengucapkan doa restu bagi dia.”
Saya berkata kepadanya, “Bila kau tidak mengucapkan doa restumu kepadanya, maka kau tidak akan pernah beroleh kesembuhan. Apabila Anda mengucapkan berkat itu, maka berkat itu akan mulai dari dalam diri Anda sendiri, dan akan keluar dari dalam diri Anda. Anda akan beroleh berkat lebih banyak dari dia, sebab ucapan berkat itu justru peribahasa kuno, “Bila kita hendak mencoreng muka orang lain dengan arang, maka hendaklah kita coreng arang itu ke atas tangan kita terlebih dahulu.” Jadi bila Anda hendak mengutuk istri Anda, maka kutukan itu akan keluar dari dalam mulut Anda terlebih dahulu. Maka Andalah yang akan menerima kutukan itu terlebih dahulu. Akan tetapi bila Anda mengucapkan doa restu kepada isteri Anda, maka doa restu itu akan mengalir ke dalam hati Anda. Dari dalam mulut Anda akan mengalir berkat, dan Andalah yang akan menerima berkat itu terlebih dahulu. Oleh sebab itu ucapkanlah berkat baginya.”
Maka duduklah laki-laki itu dan mulai mengucapkan doa restunya bagi isterinya. Mula-mula dengan suara giginya yang menggeretak penuh geram. Ia berdoa, “Oh Tuhan, saya memanjatkan doa berkat bagi isteri saya.
Kiranya Tuhan mau memberkati dia. Tuhan mau peliharakan dia, dan selamatkan dia. Oh Tuhan, curahkanlah berkatnya atas dia.”
Setiap kali ia berdoa, ia tidak lupa menyebut nama isterinya supaya diberkati Tuhan. Dan dalam waktu satu bulan saja ia telah disembuhkan dari penyakit tuberkulosis. Ia menjadi seorang manusia yang berobah sama sekali. Kuasa Allah mulai mengalir dari dalam diri orang itu, sedangkan dirinya segar segar sementara wajahnya memancarkan sinar kegembiraan yang berseri-seri.
Tatkala saya ketemu dia setelah sebulan lamanya, ia berkata dengan girang hati kepada saya, “Oh, bapak pendeta, saya bersyukur kepada Tuhan. Saya mengucapkan terima kasih banyak, oleh karena saya telah memberkati isteri saya. Oleh karena itu ia telah meninggalkan saya, maka saya bisa menemukan Yesus. Saya berdoa bagi dia setip hari. Saya telah memperbaharui surat izin mengemudi buldozer saya. Sekarang saya sudah mendapat lowongan pekerjaan yang baru. Saya sudah punya rumah baru. Saya tetap menunggu agar supaya isteri saya itu bisa kembali lagi kepadaku.”
Orang ini sedang memuji kebesaran Tuhan. Sebab orang ini sedang membeberkan riwayat hidupnya dan membuktikan bagaimana Tuhan telah bekerja dengan heran melalui kehidupan pribadinya. Ia telah sembuh dalam tubuh jiwa dan rohaninya.
Tanpa lepas dari rasa benci, maka Anda tidaklah mungkin bisa berhubungan dengan Tuhan. Apabila Anda bertugas dan melayani pekerjaan Tuhan, janganlah Anda lupa untuk menekankan kesadaran ini kepada orang-orang yang Anda temui itu.
Pada suatu hari datanglah seorang guru sekolah kepadaku. Ia adalah seorang ibu guru kepala sekolah, tetapi menderita sakit encok. Ia telah mendatangi pelbagai macam rumah sakit, tetapi ia tidak berhasail beroleh kesembuhan. Saya tumpangkan tangan saya kepadanya lalu berdoa keras-keras bersama dengan dia, “Ya Tuhan sembuhkan orang ini!” Akan tetapi sampai saya berteriak, tidak juga terjadi apa-apa, tak ada perobahan yang nampak pada dirinya.
Banyak orang telah disembuhkan di gereka. Akan tetapi apa pun usaha kami untuk mendoakan orang ini, ia tetap tidak bisa sembuh juga. Lambat laun saya merasa bosan dan hampir putus asa juga. Akan tetapi pada suatu hari Roh Kudus berbicara kepadaku. Ia berkata, “Buat apa kau berdoa, berteriak, memaksa diri memintan kesembuhan baginya? Tuhan tidak dapat melewati diri orang itu, sebab selama ini ia mengidap rasa benci kepada bekas suaminya. Selama ada kebencian di dalam hatinya, Tuhan tidak dapat masuk di dalam hatinya.”
Saya tahu bahwa ia telah diceraikan oleh suaminya kurang lebih sepuluh tahun yang lampau. Akan tetapi saya berlagak tidak tahu. Sementara ia duduk di kursi, saya berkata kepadanya, “Ibu, lebih baik Anda bercerai saja dengan suami Anda.”
Dengan tercengang ia mengangkat muka dan berkata “Bapak Pendeta, apa maksud Anda menyuruh saya menceraikan suami saya? Saya sudah bercerai dengan suami saya semenjak sepuluh tahun yang lalu.”
“Tidak, saya lihat belum!” kataku kepadanya.
“Ah, sudah ! katanya dengan tegas.
“Memang betul,” kataku dengan mengusulkan penjelasan kepadanya. “Betul kau telah bercerai secara resmi dengan dia. Akan tetapi Anda masih mengutuk-ngutuk dia. Setiap hari Anda mengutuk dan memaki-maki dia. Di dalam bayangan dan ingatan Anda maka Anda tidak pernah bercerai dengan suami Anda. Di dalam pikiran Anda maka Anda masih tetap saja hidup bersama dengan suami Anda itu. Dan kebencian terhadap suami Anda itu membawa kebinasaan bagi diri Anda sendiri. Ia akan merusak tulang-belulang Anda. Oleh karena Anda masih mengidap kebencian terhadap suami Anda itu, maka penyakit encok Anda itu tidak sembuh-sembuh. Tidak ada seorang dokter pun yang bisa menyembuhkan Anda.”
Ia menjawab, “Ya, tetapi dia telah menyakiti hati saya. Semenjak kami menikah dia tidak pernah mencari pekerjaan. Ia cuma hidup dari gaji penghasilan saya.
Ia mencemarkan kehidupan saya. Ia pergi
bersenang-senang dengan wanita lain. Bagaimana saya bisa mencintai dia.
Saya berkata, “Apakah Anda mencintai dia atau tidak, itu adalah urusan pribadi Anda. Akan tetapi apabila Anda terus-terusan membenci dia, maka Anda akan menderita batin, tubuh dan jiwa. Anda menyiksa diri Anda sendiri kalau begini cara Anda. Anda bisa mati karena menderita encok. Oleh sebab itu penyakit encok Anda itu hanya bisa disembuhkan oleh kuasa Allah.
Sedangkan kuasa kesembuhan Allah tidak akan jatuh begitu saja dari langit bagaikan bintang beralih atau batu meteor, turun di atas kepala Anda dan membawa kesembuhan bagi Anda. Tidak!
“Sama sekali tidak,” kataku melanjutkan kepadanya.
“Tuhan sedang bersemayam di dalam diri Anda. Oleh karena itu Tuhan pasti bisa menyembuhkan Anda. Akan tetapi Anda sendirilah yang menghalang-halangi arus kekuasaan Tuhan itu untuk bekerja di dalam diri Anda.
Sebabnya? Karena Anda mengidap kebencian terhadap suami Anda itu, Cobalah Anda mulai mengucapkan kata-kata yang baik kepada musuh Anda, maka Tuhan akan membalas kebaikan Anda itu. Berbuatlah baik kepada lawan Anda, maka Anda akan mengasihi dia, sehingga Tuhan akan mengirim Rohnya yang Kudus itu melalui diri Anda. Tuhan akan segera bisa menyentuh pribadi Anda.
Ibu guru ini menghadapi kesulitan yang sama seperti apa yang dihadapi oleh laki-laki yang mengidap penyakit tuberkulosis itu. Sambil menangis tersedu-sedan ia berkat, “Ah, saya tidak mungkin mengasihi dia. Maafkan saya, bapak pendeta. Saya tak akan membenci dia, tetapi saya pun tak bisa mengasihi dia.”
“Akan tetapi Anda tak bisa berhenti membenci dia, apabila Anda tidak mengasihi dia dengan cara yang positif,” jawabku. “Pandanglah suami Anda itu di dalam bayangan Anda dan katakanlah kepadanya bahwa Anda mengasihi dia. Ucapkanlah doa restu Anda kepadanya.”
Sekali lagi ia menolak. Lalu saya berdoa untuk dia. Ia menangis sambil menggeretakkan giginya. Akan tetapi sementara itu lambat laun timbul rasa cinta kasih itu terhadap suaminya. Ia pun ikut berdoa meminta kepada Tuhan agar Tuhan memberkati suaminya itu, menyelamatkan dia dan melimpahkan nasib baik bagi suaminya itu. Maka kuasa Tuhan mulai bekerja di dalam dia, sehingga Tuhan menyentuh hatinya. Dalam kurang dari tiga bulan ibu guru telah berhasil bebas dari sakit encoknya.
Sesungguhnya Tuhan bersemayam di dalam diri kita. Akan tetapi apabila kita tidak melepaskan diri kita dari musuh bebuyutan kita, yakni perasaan benci didalam diri kita, maka kuasa tuhan tidak akan bekerja melalui diri kita.( bersambung minggu depan )
oleh : Ev.Bambang Wiyono
www.fullgospelindonesia.net
Banyak orang harus berperang dahulu dengan empat macam dosa dari daging manusia yang harus dikalahkannya sebelum seseorang beriman itu bisa bekerjasama dengan Allah. Tanpa memusnahkan jenis dosa ini, maka Tuhan tidaklah mungkin menemukan salurannya melalui diri mereka, sebab saluran itu tersumbat sama sekali.
" 4 macam dosa dari daging munusia " yang ditemukan DR.David Yonggi Cho dalam pelayanan beliau selama bekerja di ladang Tuhan merupakan dosa yang bisa menyebabkan kita sakit berkepanjangan, mengalami, stress, depresi dan lain lain, juga bisa menghambat kita dalam berdoa. Pengalaman beliau ini ditulis dalam buku " DEMENSI KEEMPAT" terjemahan / penerbitan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Immauel Jakarta.
Berikut kami salin khusus untuk members Home Cell Full Gospel Indonbesia.
1. Dosa Kebencian
Banyak manusia menderita oleh karena menaruh kebencian di dalam hatinya. Inilah bentuk dosa yang pertama yang akan kita perbincangkan. Selama Anda mengidap kebencian di dalam hati Anda, maka Tuhan tidak akan mungkin bekerja melalui diri Anda. Bahkan rasa benci itu, rasa dendam yang tidak mau memberi maaf, akan merupakan musuh nomor satu bagi kehidupan iman Anda.
Di dalam Matius 6 : 14-15, Kristus menekankan benar-benar soal ini. “Bila kamu mengampuni kesalahan orang lain itu, maka Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu. Akan tetapi bila kamu tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kamu, makan Tuhan pun tidak akan mengampuni segala kesalahan kamu itu”.
Biasanya oleh karena terlampau letih, maka saya tidak pernah mau menerima tamu sesudah empat kali berkhotbah di gerega pada hari Minggu yang sama. Dan bila ada seseorang yang ingin bertemu dengan saya, maka ia harus melalui sekretaris saya terlebih dahulu. Dialah yang akan meneliti baik-baik keperluan orang-orang yang bertamu itu. Kalau sampai ada seseorang bisa mencapai pintu kantor saya, maka itu berarti orang itu berada dalam kebutuhan yang mendesak sekali.
Pada suatu hari setelah selesai kebaktian di gereja datanglah seseorang laki-laki mengetok di pintu kantor saya. Saya membuka pintu dan mengizinkan orang itu masuk. Saya kira dia sedang mabuk, sebab saya perhatikan jalannya agak terhuyung-huyung. Ia duduk di kursi lalu mencabut sesuatu dari dalam kantong celananya. Ternyata yang dibawanya itu adalah sebilah pisau. Saya menjadi takut sekali. Saya pikir, “Kok gadis-gadis sekretaris saya sampai tega benar mengizinkan orang ini membawa pisau yang berbahaya sekali!” Saya betul-betul ketakutan sekali. Ketika ia menyodorkan pisau itu kepadaku, saya mengelak. Saya pikir ia hendak menusuk saya. Saya lalu saya berkata.
“Jangan gunakan pisau itu terhadap saya. Coba ceritakan, mengapa sampai kau datang kesini?”
Ia menjawab, “Saya bermaksud hendak membunuh diri.
akan tetapi saya mula-mula sekali hendak membunuh isteri saya. Kemudian ayah mertua saya, ibu mertua saya, dan setiap orang yang berada di sekitar saya.
Akan tetapi seorang rekan saya menganjurkan agar supaya saya datang menghadiri kebaktian di gereja anda, sebelum saya melakukan segala tindakan itu. Lalu saya datang dan menghadiri kebaktian anda yang ke empat pada hari ini. Saya pasang telinga luar biasa, akan tetapi tidak ada sepatah kata pun yang masuk ke dalam hatiku. Sebab Anda berbicara dalam bahasa Korea dengan logat bahasa Korea Selatan. Saya tidak dapat memahami tekanan kata-kata Anda itu, karena bahasa kita berlainan sedikit. Dan saya tidak bisa mengerti apa yang Anda maksudkan itu. Oleh sebab itu setelah saya mendengarkan seluruh khotbah Anda itu, maka kini saya akan melaksanakan maksud saya itu.
“Saya adalah seorang penderita tuberkolosis. Tak lama lagi saya akan mati juga. Saya terus-terusan batuk tidak berkesudahan. Makin lama saya makin mendekati ajalku.”
“Tenanglah,” kataku kepadanya. “Duduklah dekat-dekat saya. Nanti saya dengarkan dulu riwayatmu itu bagaiman letak persoalan yang sebenarnya.”
“Begini,” jawabnya. “Pada masa berlangsungnya Perang Vietnam, saya pergi meninggalkan kampung halamanku sebagai seorang ahli mesin dan supir buldozer. Saya bekerja selama ini di medan perang terdepan. Saya merobohkan batang-batang kayu dan membuka jalan raya.
Saya mempertaruhkan jiwaku untuk memperoleh uang sebanyak mungkin. Saya kirim semua uang penghasilanku kepada isteri saya. Tatkala perang Vietnam selesai saya hampir-hampir tidak punya uang sesen pun untuk pulang dari Vietnam.
“Saya mengirim telegram kepad isteri saya dari Hongkong. Tatkala saya tiba di lapangan terbang Seoul saya berharap ia akan menjemput saya bersama anak-anak saya. Akan tetapi tatkala saya tiba di sini, secuil bayangan mereka pun tidak saya ketemukan. Saya pikir mereka tidak menerima telegram saya itu. Akan tetapi tatkala saya sampai di runah saya, yang saya temukan adalah orang-orang lain yang di situ.
“Saya dengar keterangan bahwa Isteri saya telah melarikan diri dengan seorang anak laki-laki muda usia. Ia telah meninggalkan saya sambil membawa lari semua tabungan uang saya. Dia minggat bersama dengan laki-laki lain. Sekarang ia hidup di kota lain. Saya datangi dia dan meminta agar dia kembali lagi kepada saya. Akan tetapi dia telah bertekad bulat untuk tidak lagi kembali kepadaku.
“Saya pergi kepada ayah mertuaku dan ketemu sekaligus denga ibu mertuaku itu. Saya mengajukan protes. Mereka memberikan kepadaku uang sangu 40 dollar kemudian mengusir saya keluar dari dalam rumah mereka. Selama satu minggu kebencian menyala-nyala di dalam dada saya. Saya mulai batuk darah. Sekarang penyakit tuberkulosis itu makin merongrong tubuh dan nyawa saya. Tidak ada lagi harapan bagi saya. Saya akan pergi membinasakan mereka semua, yang telah membikin sakit hati saya. Baru sesudah itu saya akan membunuh diri saya.”
“Dengarkanlah,” saya menegur orang itu, “Bukanlah demikian caranya Anda membalas dendam Anda itu kepada mereka. Cara yang paling baik ialah berusaha agar tubuh Anda itu sembuh kembali. Anda mencari pekerjaan baru lagi, membentuk sebuah rumah tangga yang lebih berbahagia, dan barulah Anda pertunjukkan kebahagiaan Anda itu kepada mereka. Dengan cara demikian Anda betul-betul bisa membalas dendam Anda itu kepada mereka. Akan tetapi bila Anda membunuh mereka itu semua dan membunuh diri Anda sendiri, tidak ada hasilnya yang bisa Anda petik. Anda pun tidak merasakan kepuasan sama sekali.”
“Ya, akan tetapi saya sangat membenci mereka.”
“Selama Anda membenci mereka itu, maka selama itu pula Anda menyusahkan diri Anda sendiri,” kataku kepadanya.
“Apabila Anda mengidap kebencian di dalam diri Anda, maka itu berarti Anda membinasakan diri Anda lebih daripada Anda melakukan terhadap orang lain.”
“Tetapi saya tidak dapat menghilangkan rasa benci itu.”
“Mengapa kau tidak coba dulu dengan mengundang Yesus,”
kataku. “Bila Yesus masuk ke dalam hatimu maka segala kekuatan dan tenaga Tuhan akan masuk ke dalam hatimu.
Tenaga Tuhan akan mengalir kedalam dirimu. Tuhan akan menyentuh hatimu. Tuhan akan menyembuhkan dirimu, dan Tuhan akan memulihkan kembali kehidupan Anda yang telah ambruk itu. Dan bila semuanya ini telah menjadi satu kenyataan dalam hidupmu itu, maka hal itu akan merupakan satu pembalasan dendam yang paling menyakitkan hati bagi mereka itu.”
Saya mengajak dia berdoa dan menerima Yesus Kristus sebagai juru selamat pribadinya. Namun masih saja ia tidak bisa memaafkan isterinya itu. Maka saya pun meminta agar bisa memaafkan isterinya itu.
“Cara yang paling baik untuk memaafkan isterimu itu ialah mengucapkan berkat atas kehidupannya. Berkatilah tubuh, jiwa, raga dan kehidupannya. Berdoalah kepada Tuhan agar supaya Tuhan membuka pintu rahmatNya dan mencurahkan berkatNya kepada isteri Anda itu!”
“Tak mungkin saya mengucapkan berkat kepadanya itu!”, tolak orang itu mentah-mentah. “Saya tidak akan menyumpah-nyumpahi dia, akan tetapi saya pun tidak mau mengucapkan doa restu bagi dia.”
Saya berkata kepadanya, “Bila kau tidak mengucapkan doa restumu kepadanya, maka kau tidak akan pernah beroleh kesembuhan. Apabila Anda mengucapkan berkat itu, maka berkat itu akan mulai dari dalam diri Anda sendiri, dan akan keluar dari dalam diri Anda. Anda akan beroleh berkat lebih banyak dari dia, sebab ucapan berkat itu justru peribahasa kuno, “Bila kita hendak mencoreng muka orang lain dengan arang, maka hendaklah kita coreng arang itu ke atas tangan kita terlebih dahulu.” Jadi bila Anda hendak mengutuk istri Anda, maka kutukan itu akan keluar dari dalam mulut Anda terlebih dahulu. Maka Andalah yang akan menerima kutukan itu terlebih dahulu. Akan tetapi bila Anda mengucapkan doa restu kepada isteri Anda, maka doa restu itu akan mengalir ke dalam hati Anda. Dari dalam mulut Anda akan mengalir berkat, dan Andalah yang akan menerima berkat itu terlebih dahulu. Oleh sebab itu ucapkanlah berkat baginya.”
Maka duduklah laki-laki itu dan mulai mengucapkan doa restunya bagi isterinya. Mula-mula dengan suara giginya yang menggeretak penuh geram. Ia berdoa, “Oh Tuhan, saya memanjatkan doa berkat bagi isteri saya.
Kiranya Tuhan mau memberkati dia. Tuhan mau peliharakan dia, dan selamatkan dia. Oh Tuhan, curahkanlah berkatnya atas dia.”
Setiap kali ia berdoa, ia tidak lupa menyebut nama isterinya supaya diberkati Tuhan. Dan dalam waktu satu bulan saja ia telah disembuhkan dari penyakit tuberkulosis. Ia menjadi seorang manusia yang berobah sama sekali. Kuasa Allah mulai mengalir dari dalam diri orang itu, sedangkan dirinya segar segar sementara wajahnya memancarkan sinar kegembiraan yang berseri-seri.
Tatkala saya ketemu dia setelah sebulan lamanya, ia berkata dengan girang hati kepada saya, “Oh, bapak pendeta, saya bersyukur kepada Tuhan. Saya mengucapkan terima kasih banyak, oleh karena saya telah memberkati isteri saya. Oleh karena itu ia telah meninggalkan saya, maka saya bisa menemukan Yesus. Saya berdoa bagi dia setip hari. Saya telah memperbaharui surat izin mengemudi buldozer saya. Sekarang saya sudah mendapat lowongan pekerjaan yang baru. Saya sudah punya rumah baru. Saya tetap menunggu agar supaya isteri saya itu bisa kembali lagi kepadaku.”
Orang ini sedang memuji kebesaran Tuhan. Sebab orang ini sedang membeberkan riwayat hidupnya dan membuktikan bagaimana Tuhan telah bekerja dengan heran melalui kehidupan pribadinya. Ia telah sembuh dalam tubuh jiwa dan rohaninya.
Tanpa lepas dari rasa benci, maka Anda tidaklah mungkin bisa berhubungan dengan Tuhan. Apabila Anda bertugas dan melayani pekerjaan Tuhan, janganlah Anda lupa untuk menekankan kesadaran ini kepada orang-orang yang Anda temui itu.
Pada suatu hari datanglah seorang guru sekolah kepadaku. Ia adalah seorang ibu guru kepala sekolah, tetapi menderita sakit encok. Ia telah mendatangi pelbagai macam rumah sakit, tetapi ia tidak berhasail beroleh kesembuhan. Saya tumpangkan tangan saya kepadanya lalu berdoa keras-keras bersama dengan dia, “Ya Tuhan sembuhkan orang ini!” Akan tetapi sampai saya berteriak, tidak juga terjadi apa-apa, tak ada perobahan yang nampak pada dirinya.
Banyak orang telah disembuhkan di gereka. Akan tetapi apa pun usaha kami untuk mendoakan orang ini, ia tetap tidak bisa sembuh juga. Lambat laun saya merasa bosan dan hampir putus asa juga. Akan tetapi pada suatu hari Roh Kudus berbicara kepadaku. Ia berkata, “Buat apa kau berdoa, berteriak, memaksa diri memintan kesembuhan baginya? Tuhan tidak dapat melewati diri orang itu, sebab selama ini ia mengidap rasa benci kepada bekas suaminya. Selama ada kebencian di dalam hatinya, Tuhan tidak dapat masuk di dalam hatinya.”
Saya tahu bahwa ia telah diceraikan oleh suaminya kurang lebih sepuluh tahun yang lampau. Akan tetapi saya berlagak tidak tahu. Sementara ia duduk di kursi, saya berkata kepadanya, “Ibu, lebih baik Anda bercerai saja dengan suami Anda.”
Dengan tercengang ia mengangkat muka dan berkata “Bapak Pendeta, apa maksud Anda menyuruh saya menceraikan suami saya? Saya sudah bercerai dengan suami saya semenjak sepuluh tahun yang lalu.”
“Tidak, saya lihat belum!” kataku kepadanya.
“Ah, sudah ! katanya dengan tegas.
“Memang betul,” kataku dengan mengusulkan penjelasan kepadanya. “Betul kau telah bercerai secara resmi dengan dia. Akan tetapi Anda masih mengutuk-ngutuk dia. Setiap hari Anda mengutuk dan memaki-maki dia. Di dalam bayangan dan ingatan Anda maka Anda tidak pernah bercerai dengan suami Anda. Di dalam pikiran Anda maka Anda masih tetap saja hidup bersama dengan suami Anda itu. Dan kebencian terhadap suami Anda itu membawa kebinasaan bagi diri Anda sendiri. Ia akan merusak tulang-belulang Anda. Oleh karena Anda masih mengidap kebencian terhadap suami Anda itu, maka penyakit encok Anda itu tidak sembuh-sembuh. Tidak ada seorang dokter pun yang bisa menyembuhkan Anda.”
Ia menjawab, “Ya, tetapi dia telah menyakiti hati saya. Semenjak kami menikah dia tidak pernah mencari pekerjaan. Ia cuma hidup dari gaji penghasilan saya.
Ia mencemarkan kehidupan saya. Ia pergi
bersenang-senang dengan wanita lain. Bagaimana saya bisa mencintai dia.
Saya berkata, “Apakah Anda mencintai dia atau tidak, itu adalah urusan pribadi Anda. Akan tetapi apabila Anda terus-terusan membenci dia, maka Anda akan menderita batin, tubuh dan jiwa. Anda menyiksa diri Anda sendiri kalau begini cara Anda. Anda bisa mati karena menderita encok. Oleh sebab itu penyakit encok Anda itu hanya bisa disembuhkan oleh kuasa Allah.
Sedangkan kuasa kesembuhan Allah tidak akan jatuh begitu saja dari langit bagaikan bintang beralih atau batu meteor, turun di atas kepala Anda dan membawa kesembuhan bagi Anda. Tidak!
“Sama sekali tidak,” kataku melanjutkan kepadanya.
“Tuhan sedang bersemayam di dalam diri Anda. Oleh karena itu Tuhan pasti bisa menyembuhkan Anda. Akan tetapi Anda sendirilah yang menghalang-halangi arus kekuasaan Tuhan itu untuk bekerja di dalam diri Anda.
Sebabnya? Karena Anda mengidap kebencian terhadap suami Anda itu, Cobalah Anda mulai mengucapkan kata-kata yang baik kepada musuh Anda, maka Tuhan akan membalas kebaikan Anda itu. Berbuatlah baik kepada lawan Anda, maka Anda akan mengasihi dia, sehingga Tuhan akan mengirim Rohnya yang Kudus itu melalui diri Anda. Tuhan akan segera bisa menyentuh pribadi Anda.
Ibu guru ini menghadapi kesulitan yang sama seperti apa yang dihadapi oleh laki-laki yang mengidap penyakit tuberkulosis itu. Sambil menangis tersedu-sedan ia berkat, “Ah, saya tidak mungkin mengasihi dia. Maafkan saya, bapak pendeta. Saya tak akan membenci dia, tetapi saya pun tak bisa mengasihi dia.”
“Akan tetapi Anda tak bisa berhenti membenci dia, apabila Anda tidak mengasihi dia dengan cara yang positif,” jawabku. “Pandanglah suami Anda itu di dalam bayangan Anda dan katakanlah kepadanya bahwa Anda mengasihi dia. Ucapkanlah doa restu Anda kepadanya.”
Sekali lagi ia menolak. Lalu saya berdoa untuk dia. Ia menangis sambil menggeretakkan giginya. Akan tetapi sementara itu lambat laun timbul rasa cinta kasih itu terhadap suaminya. Ia pun ikut berdoa meminta kepada Tuhan agar Tuhan memberkati suaminya itu, menyelamatkan dia dan melimpahkan nasib baik bagi suaminya itu. Maka kuasa Tuhan mulai bekerja di dalam dia, sehingga Tuhan menyentuh hatinya. Dalam kurang dari tiga bulan ibu guru telah berhasil bebas dari sakit encoknya.
Sesungguhnya Tuhan bersemayam di dalam diri kita. Akan tetapi apabila kita tidak melepaskan diri kita dari musuh bebuyutan kita, yakni perasaan benci didalam diri kita, maka kuasa tuhan tidak akan bekerja melalui diri kita.( bersambung minggu depan )
Jadwal & Berita
Info
Untuk mendengarkan rekaman audio khotbah diperlukan aplikasi QuickTime dari Apple yang bisa didownload di Download
Login
Konseling
Telp.: (+62) 218641219
Newsletter
Visitors Counter
72415
![]() | Hari ini | 141 |
![]() | Kemarin | 153 |
![]() | Minggu ini | 1003 |
![]() | Bulan ini | 3025 |
![]() | Total | 72415 |




